Rabu, 24
September 2014 (07.15)
Aku putuskan untuk mengaktifkan data jaringanku.
Wuooooaaah.... banyak sekali pesan bbm yang masuk, dan ada juga pemberitahuan
dari instagram. Ku lihat satu persatu pesan di bbm. Eh.. ternyata ada satu nama
yang membuatku semangat dipagi ini. Siapa lagi kalau bukan Hendra Wijaya. Ku
buka:
Hendra Wijaya:
~PING!
Anna Izuka:
~Maaf
tadi malam aku sibuk sekali
~Ada apa
yaa? (pertanyaan yang bodoh >,<)
Hendra Wijaya:
~Maaf kalau mengganggu
~Tak ada apa-apa
Anna Izuka:
~Katanya
sibuk kok malah bbm.an? (pertanyaan apa lagi ini x_x)
Hendra Wijaya:
~Libur gi
Aku
sempat sock dan kesal, panggilannya tak ada embel-embel sayank, yank atau
apalah...
Anna Izuka:
~Aku mau
tanya sebenarnya hub kita ini apa sekarang? Aku benar-benar bingung..
(lama sekali ia tak menjawabnya dan hanya di ‘R’
sajaa, ia bahkan sempat ganti DP dan PM tapi ia malah tak membalas pertanyaanku
ini. Apa maksunya ni anak. Lalu kucoba bertanya lagi
Anna Izuka:
~Kamu gk
mau menjawab pertanyaanku?
Hendra Wijaya:
~Apa
lagi? (ketus,cuek,dan menyebalkan sekali >,<)
Anna Izuka:
~Y udah
kalau begitu
~ maaf
udah menggangu waktumu
~Sekali
lagi aku minta maaaf
Hendra Wijaya:
~Iyaa
~Woles
ajaa
Saat itu juga aku langsung menDCnya, aku sudah
benar-benar emosi, nomer ponselnya juga langsung kuhapus. Hatiku benar-benar
sakit. Pikiranku kembali kacau. Tangisku pecah, aku sudah tak bisa
membendungnya. Kutemui sahabatku Tya dan kupeluk erat dia sambil menangis, dia
bertanya aku kenapa? Aku hanya bisa menjawab kalau aku benar-benar bodoh.
Setidaknya pelukannya bisa menenangkanku. Bebanku sedikit berkurang, ia pasti
tau ini mungkin ada hubungannya dengan Hendra. Bagaimana tidak, Cuma laki-laki
itu yang bisa membuatku menangis seperti ini. Tapi aku sama sekali tak
mengatakan apapun ke dia. Ia juga tak akan menanyaiku, karna ia tau itu akan
membuatku lebih sedih. Tya is my sister ©C
Aku pulang dan mengunci kamarku, disitulah aku
kembali menangis. Tiba-tiba ponselku berbunyi dan ada pesan darinya, meski aku
hapuspun nomernya itu percuma. Karena nomer itu sudah ada diotakku, aku hafal
nomer itu. Akupun membalas pesannya dan aku benar-benar marah. Rasanya aku
benar-benar ingin menjambak rambut, menjewer telinga, dan menendang kakinya.
Aku tertidur. Bangun tidur, aku langsung melihat cermin besar yang ada
dikamarku. Ohhh... Tidaaaaa.. Mataku benar-benar sembab. Ini semua kacau,
bagaimana akau menjelaskan pada ibu ku. Dan yang lebih parahnya lagi, hari ini
adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah liburan panjang. Ku lihat
ponselku ternyata ada 6 panggilan tak terjawb dari Mr. Nyebelin. Saat keluar
kamar aku langsung ditanyai Ibu, aku ni kenapa. Dan aku hanya menjawab “Aku
sedang bertengkar dengannya”. Tanpa harus kusebutkan namanyapun Ibu pasti tau,
siapa lagi laki-laki yang membuatku bisa berpacaran. Laki-laki pertama yang
kukenalkan pada Ibuku. Ibuku bahkan sangat menyukainya, kadang aku berfikir.
Yang menjadi anaknya itu sebenarnya siapa? Aku atau dia. Setiap ada masalah
sedikit saja kadang aku yang dimarahi. Padahal yang membuat sedih anaknya kan
tu orang. -_-!!
Ok baiklah aku hari ini benar-benar telah emosi.
Masuk kuliah pertama aja membuatku gak bersemangat. Dosen-dosennya membosankan.
Jangan tanya reaksi teman-teman ketika melihatku. Ya sudah tentu mereka pasti
menanyaiku, bla... bla.. bla.. ini itu. Males jawab pertanyaan mereka
satu-satu. Cukup tersenyum sambil menggelengkan kepala. Begitupun Dosen yang
ikut-ikutan kepo. Pake acara tanya jawab lagi.. maksudku antara aku dan si
dosen. “Heei.. na, kamu kenapa? Matamu sampai sembab begitu.” Belum sempat
menjawab si Eddo yang bisa dikatakan salah satu sahabatku malah yang
menjawabnya “Baru putus,pak”. Kulirik ia dengan pandangan yang membunuh. Ia pun
hanya nyengir. “Na, cowokmu rugi itu. Bisa-bisanya mahasiswiku dibuat nangis”.
(Ohh... aku benar-benar setuju dengan dosenku ini, ia pasti rugi).
(19.20)
BBM’nya aku invite lagi, aku pikir tak kan
diterima tetapi diterima. Huuh... dia kirim pesan ke aku. Ternyata dia
menjelaskan semuanya, apa yang terjadi saat ini. Dia merasa bersalah, dia
sangat sibuk hingga tak akan ada lagi waktu untukku, ia berkata kalau ia ingin
mengejar cita-citanya terlebih dulu, ia ingin membahagiakan orangtuanya. Dan
begitupun denganku aku juga ingin menraih cita-citaku dahulu, membuat bangga
orangtuaku. Jadi kami memutuskan untuk break. Dan akupun legaa.. meski gak
pacaran atau mungki losecontct dengannya. Tapi hati kita selalu bersama. Itulah
yang menjadi semangatku. Karena dia megitu sangat menyayangiku, akupun
demikian. Kalau kita berjodoh, kita pasti bersama kembali. Untuk saat ini aku
dan dia memutuskan untuk fokus menata masa depan nantinya. Inilah Cinta dan
Cita-Cita ^^
Kalau kita bertemu nanti, kuharap kita bisa
sukses.. Beberapa tahun yang akan datang.. ^_^
Entah siapa yang akan memulai menyapa duluan, dan
rasa ini semoga tak akan pernah hilang. Suatu saat nanti kita pasti bersama,
entah jadi sahabat yang tercinta atau pasangan tercinta. Biarlah waktu yang
menjawabnya...........











Di
tengah hujan yang lebat dia menangis dan menangis. “Kwong-kwong-kwong. Wahai
sungai jangan bawa ibuku pergi!”