Kamis, 25 September 2014

Antara Cinta & Cita-Cita

Rabu, 24 September 2014 (07.15)
Aku putuskan untuk mengaktifkan data jaringanku. Wuooooaaah.... banyak sekali pesan bbm yang masuk, dan ada juga pemberitahuan dari instagram. Ku lihat satu persatu pesan di bbm. Eh.. ternyata ada satu nama yang membuatku semangat dipagi ini. Siapa lagi kalau bukan Hendra Wijaya. Ku buka:
Hendra Wijaya:
~PING!
Anna Izuka:
~Maaf tadi malam aku sibuk sekali
~Ada apa yaa? (pertanyaan yang bodoh >,<)
Hendra Wijaya:
~Maaf  kalau mengganggu
~Tak ada apa-apa
Anna Izuka:
~Katanya sibuk kok malah bbm.an? (pertanyaan apa lagi ini x_x)
Hendra Wijaya:
~Libur gi
Aku sempat sock dan kesal, panggilannya tak ada embel-embel sayank, yank atau apalah...
Anna Izuka:
~Aku mau tanya sebenarnya hub kita ini apa sekarang? Aku benar-benar bingung..
(lama sekali ia tak menjawabnya dan hanya di ‘R’ sajaa, ia bahkan sempat ganti DP dan PM tapi ia malah tak membalas pertanyaanku ini. Apa maksunya ni anak. Lalu kucoba bertanya lagi
Anna Izuka:
~Kamu gk mau menjawab pertanyaanku?
Hendra Wijaya:
~Apa lagi? (ketus,cuek,dan menyebalkan sekali >,<)
Anna Izuka:
~Y udah kalau begitu
~ maaf udah menggangu waktumu
~Sekali lagi aku minta maaaf
Hendra Wijaya:
~Iyaa
~Woles ajaa

Saat itu juga aku langsung menDCnya, aku sudah benar-benar emosi, nomer ponselnya juga langsung kuhapus. Hatiku benar-benar sakit. Pikiranku kembali kacau. Tangisku pecah, aku sudah tak bisa membendungnya. Kutemui sahabatku Tya dan kupeluk erat dia sambil menangis, dia bertanya aku kenapa? Aku hanya bisa menjawab kalau aku benar-benar bodoh. Setidaknya pelukannya bisa menenangkanku. Bebanku sedikit berkurang, ia pasti tau ini mungkin ada hubungannya dengan Hendra. Bagaimana tidak, Cuma laki-laki itu yang bisa membuatku menangis seperti ini. Tapi aku sama sekali tak mengatakan apapun ke dia. Ia juga tak akan menanyaiku, karna ia tau itu akan membuatku lebih sedih. Tya is my sister ©C

Aku pulang dan mengunci kamarku, disitulah aku kembali menangis. Tiba-tiba ponselku berbunyi dan ada pesan darinya, meski aku hapuspun nomernya itu percuma. Karena nomer itu sudah ada diotakku, aku hafal nomer itu. Akupun membalas pesannya dan aku benar-benar marah. Rasanya aku benar-benar ingin menjambak rambut, menjewer telinga, dan menendang kakinya. Aku tertidur. Bangun tidur, aku langsung melihat cermin besar yang ada dikamarku. Ohhh... Tidaaaaa.. Mataku benar-benar sembab. Ini semua kacau, bagaimana akau menjelaskan pada ibu ku. Dan yang lebih parahnya lagi, hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah setelah liburan panjang. Ku lihat ponselku ternyata ada 6 panggilan tak terjawb dari Mr. Nyebelin. Saat keluar kamar aku langsung ditanyai Ibu, aku ni kenapa. Dan aku hanya menjawab “Aku sedang bertengkar dengannya”. Tanpa harus kusebutkan namanyapun Ibu pasti tau, siapa lagi laki-laki yang membuatku bisa berpacaran. Laki-laki pertama yang kukenalkan pada Ibuku. Ibuku bahkan sangat menyukainya, kadang aku berfikir. Yang menjadi anaknya itu sebenarnya siapa? Aku atau dia. Setiap ada masalah sedikit saja kadang aku yang dimarahi. Padahal yang membuat sedih anaknya kan tu orang. -_-!!
Ok baiklah aku hari ini benar-benar telah emosi. Masuk kuliah pertama aja membuatku gak bersemangat. Dosen-dosennya membosankan. Jangan tanya reaksi teman-teman ketika melihatku. Ya sudah tentu mereka pasti menanyaiku, bla... bla.. bla.. ini itu. Males jawab pertanyaan mereka satu-satu. Cukup tersenyum sambil menggelengkan kepala. Begitupun Dosen yang ikut-ikutan kepo. Pake acara tanya jawab lagi.. maksudku antara aku dan si dosen. “Heei.. na, kamu kenapa? Matamu sampai sembab begitu.” Belum sempat menjawab si Eddo yang bisa dikatakan salah satu sahabatku malah yang menjawabnya “Baru putus,pak”. Kulirik ia dengan pandangan yang membunuh. Ia pun hanya nyengir. “Na, cowokmu rugi itu. Bisa-bisanya mahasiswiku dibuat nangis”. (Ohh... aku benar-benar setuju dengan dosenku ini, ia pasti rugi).
(19.20)
BBM’nya aku invite lagi, aku pikir tak kan diterima tetapi diterima. Huuh... dia kirim pesan ke aku. Ternyata dia menjelaskan semuanya, apa yang terjadi saat ini. Dia merasa bersalah, dia sangat sibuk hingga tak akan ada lagi waktu untukku, ia berkata kalau ia ingin mengejar cita-citanya terlebih dulu, ia ingin membahagiakan orangtuanya. Dan begitupun denganku aku juga ingin menraih cita-citaku dahulu, membuat bangga orangtuaku. Jadi kami memutuskan untuk break. Dan akupun legaa.. meski gak pacaran atau mungki losecontct dengannya. Tapi hati kita selalu bersama. Itulah yang menjadi semangatku. Karena dia megitu sangat menyayangiku, akupun demikian. Kalau kita berjodoh, kita pasti bersama kembali. Untuk saat ini aku dan dia memutuskan untuk fokus menata masa depan nantinya. Inilah Cinta dan Cita-Cita ^^
Kalau kita bertemu nanti, kuharap kita bisa sukses.. Beberapa tahun yang akan datang.. ^_^

Entah siapa yang akan memulai menyapa duluan, dan rasa ini semoga tak akan pernah hilang. Suatu saat nanti kita pasti bersama, entah jadi sahabat yang tercinta atau pasangan tercinta. Biarlah waktu yang menjawabnya...........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar